Rumah Sehat Al-Fatih

Rabu, 13 Juli 2011

Kekuatan Sebuah Misi



Keberhasilan seseorang berawal dari sebuah misi yang tertanam dalam jiwanya. Jika kita pelajari dan perhatikan dengan seksama pada setiap pergerakan besar bangsa-bangsa dalam sejarah dunia atau bahkan kemajuan perusahaan-perusahaan besar kelas dunia dimulai dari mission statement-nya masing-masing.
Doktrin seorang pemimpin Jerman saat Perang Dunia II bahwa “Ras Aria adalah ras tertinggi di dunia” membuat bangsa jerman saat itu begitu kuat sehingga hampir menguasai seluruh daratan Eropa. Contoh lain pada perusahaan minuman terkenal Coca Cola, sang presiden direktur Robert Woodruf di Amerika Serikat 1923-1935 memiliki misi “Kapan saja, dimana saja, minum Coca Cola”. Artinya tak peduli kapan pun, dimana pun setiap orang minum Coca Cola. Ini pulalah yang memberikan kepada jajaran direksi, manajemen hingga karyawannya terdorong untuk merambah dunia. Dan banyak contoh  penetapan misi yang lain sehingga membuat banyak oraang termotivasi  untuk mencapainya.
Begitu banyak contoh-contoh penetapan misi buatan manusia yang akhirnya berujung pada kehancuran. Seperti misi Nazi yang ingin menguasai seluruh daratan Eropa, Jepang yang ingin menguasai daratan Asia, atau misi Stalin dan lenin yang ingin mengkomuniskan Uni Soviet, semua berakhir dengan sangat menyedihkan dan menyengsarakan umat manusia. Penetapan misi seperti itu umumnya dibentuk berdasarkan logika saja dan mengabaikan suara hati sebagai fitrah manusia, akibatnya adalah sebuah doktrin yang mengsikan langkah-langkah yang tidak manusiawi, contohnya Hitler atau juga “dajjal-dajjal” kecil yang ada di Indonesia yang telah begitu banyak menyengsarakan rakyat. Namun pada akhirnya hukum keseimbangan Tuhan kelak menghempaskan mereka kembali.
QS.Faathir : 5. Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.
Sebuah misi hendaknya tidak terpaku pada aspek kognitif atau logika semata, tetapi harus mampu memberikan ‘koridor’ yang sesuai dengan suara hati dan fitrah manusia. Lalu apakah yang bisa dijadikan sebagai misi kehidupan kita?
Penetapan misi kehidupan secara efektif bukan dibuat oleh logika manusia semata, tetapi juga bersumber dari Sang Pencipta Alam Semsta, inilah mission statement sesungguhnya. Menurut seorang penulis Barat Frankl, “Kita mendeteksi bukan menciptakan misis kita dalam hidup”, “Semua orang memiliki panggilan khusus atau misis dalam hidupnya…”. Oleh karena itu, ia tidak dapat digantikan, atau hidupnya tidak mungkin dapat diulang, setiap orang memiliki peluang unik untuk melaksanakan misi itu. Frankl menambahkan lagi,”Akhirnya manusia tidak perlu menanyakan apa makna dari hidupnya, tetapi ia harus sadar bahwa dialah yang ditanya..” singkatnya, tiap orang ditanyai oleh kehidupan dan ia dapat menjawab melalui kehidupannya sendiri. Kepada kehidupan ia hanya dapat member respond dan bertanggung jawab. Inilah bukti ilmiah modern tentang perintah Allah SWT untuk mengucapkan mission statement,”dua kalimat syahadat”. Inilah misi kehidupan yang sesungguhnya.
Misi yang diikrarkan melalui dalam bentuk syahadat akan membentuk sebuah tekad dan komitmen yang bulat, perjanjian yang mengikat antara seorang manusia dengan Tuhan penciptanya. Inilah sumber kekuatan yang luar biasa bagi orang yang beriman dan bertakwa. Inilah yang melahirkan suatu keberanian, keyakinan, optimism, dan keyakinan batin.
QS. An Nisaa : 132. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.”
Inilah sebuah sinergi antara seorang manusia yang beriman kokoh dengan Tuhannya Yang Maha Adidaya. Kita bisa melihat hsailnya, bagaimana seorang Muhammad Saw yang telah menjalin ikatan syahadat dengan Allah SWT berhasil mengubah wajah dunia dengan bermodalkan syahadatnya. Kemudian misi ini diteruskan oleh para  Khulafaur Rasyidin, dimaana pada tahun-tahun keemasan mampu mendirikan imperium terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia yang membentang dari perbatasan India hingga samudera atlantik. Dorongan kuat syahadat ini telah berhasil membuat pasukan Arab yang kecil itu melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Penaklukan itu selalu diikuti dengan masuknya orang-orang untuk memeluk agama Islam secara berbondong-bondong, sukarela tanpa paksaan sama sekali. Uniknya, syiar agama Islam langsung dilakukan oleh para balatentara Islam itu sendiri, bukan melalui lembaga Islam atau pun organisasi Islam saat itu. Mereka langsung member contoh dan dakwah sekaligus. “Merekalah generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini..” menurut Michael Hart.
Penetapan misi ‘dua kalimat syahadat’ adalah suatu langkah pertama yang telah terbukti kebenarannya secara ilmiah baik lansung maupun tidak langsung didukung oleh para ilmuwan barta, karena langkah ini merupakan suatu pembangunan wawasan dan persepsi tentang tujuan akhir atau visi. Syahadat adalah membangun persepsi tentang Tuhan Yang Maha Tinggi yang ditransformasikan melalui Muhammad Saw sebagai seorang manusia biasa yang pernah hidup di permukan bumi ini.
Dengan doktrin tauhid ‘Laa Ilaaha Illallah’, Allah Swt ingin memuliakan sekaligus  membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan serta keyakinan semu yang akan meruntuhkan martabat diri sebagai makhluk yang paling mulia. Mengambil ‘Ilah’ atau sesembahan lain selain Allah Swt, seperti kehormatan diri, kepentingan, ataupun harta, semuanya itu hanya bersifat fana. Namun sebaliknya, apabila semuanya dilakukan berdasarkan pijakaan ‘Ilah’ pada Allah Swt, maka akan melahirkan ketenangan, kepercayaan diri, integritas, motivasi, dan kebijaksanaan yang semuanya bersifat abadi dari Allah Azza wa Jalla.
Ucapan ‘Wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah’ (Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah), adalah suatu bentuk transformasi visi untuk membumikan sifat-sifat Allah yang serba mulia di atas permukaan bumi. Ini akan membantu manusia  dalam menterjemahkan Asmaul Husna ini kedalam keseharian manusia dalam menghadapi berbagai tantangan. Bahkan Rasulullah Saw telah memberikan contoh-contoh secara nyata atas pelaksanaan sifat-sifat Allah yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits secara jelas. Ini meyakinkan kita bahwaa asmaaul husan dalam tingkatan dunia tidak mustahil dan memiliki kemampuan yang masuk akal untuk diaplikasikan dengan cara mencontoh sikap dan tingkah laku keseharian Rasulullah Saw yang begitu sangat manusiawi.
QS. Al Ahzab : 21. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
Rasulullah Saw mampu menciptakan budaya Islam yang memiliki nilai-nilai harmonis antara kenyataan yang dihadapi dengan misi mulia yang dibawaya. Rasulullah Saw mampu menciptakan budaya keselarasan antara dassollen dan das sein ‘hati di langit namun kaki tetap menjejak bumi’. Beliau mulai berjuang dari bawah sekali, sikapnya yang penuh kasih dan sayang itu membuatnya dicintai banyak orang. Integritas dan kejujurannya yang tinggi menjadikannya begitu dipercaya sehgingga mendapat julukan ‘Al Amin’. Perjuangannya yang konsisten telah menjadikan dirinya memiliki begitu banyak pengikut, disamping ajarannya yang sangat sesuai dengan suara hati manusia. Bimbingannya telah menciptakan begitu banyak pemimpiin-pemimpin kaliber dunia.
Kalimat syahadat adalah suatu misi yang menghasilkan suatu ‘bayangan’ tentang tujuan akhir yang divisualisasikan dalam bentuk ‘surga’. Secara ilmiah, penetapan misi melalui syahadat akan menciptakan suatu imajinasi yang berbentuk visual, yang pada akhirnya menghasilkan suatu dorongan kekuatan untuk mencapai keberhasilan itu. Disinilah arti kepemimpinan, sebuah tujuan akhir yang berbentuk persepsi yang dinyatakan dengan jelas dsn kuat. Kita tidak perlu mengikuti impian orang lain, karena kita telah memiliki sendiri tujuan akhir melalui syahadat. Inilah kepemimpinan dari seorang yang telah memiliki sebuah ketangguhan pribadi.
QS. Fushshilat : 30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".

Twit : @ummialfatih

Senin, 27 Juni 2011

Kekuatan Sang Ibunda Al Quran


Al Quran merupakan petunjuk menuju kesuksesan yang hakiki, mukjizat yang diwahyukan kepada seorang teladan bagi seluruh umat manusia Rasulullah SAW. Al Fatihah merupakan surat yang diletakkan di awal Al Qur’an, pembuka yang sempurna bagi segala macam keberhasilan dan kebaikan. Al Fatihah juga merupakan penyembuh dari hati dan pikiran yang tidak sehat, pedoman dasar bagi segala kecerdasan hati atau akhlak manusia, bekal yang maha penting untuk untuk menggapai cita-cita dan harapan, perwujudan dari sebuah harapan atau permohonan yang bisa mengingatkan kita akan visi yang harus diraih, serta  ungkapan rasa syukur dari segala hasil yang telah dicapai. Inilah intisari Al Qur’an, karena  surat Al Fatihah mencakup seluruh persoalan pokok yang disoroti Al Quran, yaitu akidah (keyakinan). Syariah (tata peribadatan), dan al qashash (riwayat).
Inilah  kekuatan-kekuatan dalam setiap ayat Al Fatihah yang bisa kita renungkan dan rasakan sehingga terpancar dari diri-diri kita :
1.       Bismillahirrahmanirrahiim (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
Mulailah atas nama Allah, secara gramatikal Bismillah sesungguhnya kaimat yang membutuhkan penyempurna “Dengan nama Allah…” Apa yang dengan nama Allah itu? Sebagai contoh, bandingkan dengan kalimat “Dengan pisau” apa yang dengan pisau?. Nah supaya sempurna , kita tambahkan kalimat “Saya menyembelih ayam dengan pisau”.  Lalu apa penyempurna dari Bismillah? Perbuatan kitalah penyempurnanya. Misalnya kita mengucapkan Bismillah ketika mulai makan, berarti kita berkata.”Saya makan dengan menyebut nama Allah”, kalimat ini menjadi sempurna. Agar seluruhnya aktivitas keseharian kita bernilai ibadah, Rasulullah SAW menganjurkan untuk memulai segala perbuatan baik dengan Bismillahirrahmanirrahiim.
“Setiap urusan (perbuatan) yang tidak diawali dengan Bismillahirrahmanirrahiim maka cacat (terputus dari rahmat Allah SWT).” H.R Ahmad dan Ashhab Sunan.
Mulailah atas nama Allah, prinsip ini menyadarkan diri untuk bersikap rahman dan rahim kepada setiap orang agar senantiasa memiliki prinsip memberi, dan memulai atas nama Allah artinya berupaya mencontoh dan meneladani segala sifat-sifat Allah. Inilah dasar dari pembuka suara-suara hati yang senantiasa berbisik di qalbu, yang akan mengarahkan kepada kebaikan dan keberhasilan. Sehingga kita akan memiliki kepercayaan diri yang sangat kuat karena kita akan bertindak atas nama Allah Yang Maha Mulia, bertindak sebagai wakil Allah yang dihormati.
Dengan mencucapkan Bismillahirrahmanirrahiim, berarti kita menyadari akan kekuatan dan pertolongan Allah SWT dalam segala aktivitas yang kita lakukan.

2.       ALhamdulillahirabbil’alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam)
Ini merupakan pujian yang Allah SWt tetapkan untuk dirinya. Sesungguhnya setan selalu mencari celah untuk menjerumuskan manusia, salah satunya dengan riya. Agar tipu daya setan bisa dibungkam saat muncul keinginan untuk dipuji, diagungkan, bahkan dikultuskan segeralah beristigfar dan yakinka diri bahwa segala puji hanya milik Allah SWT.
Dengan memuji Allah SWT, kita akan selalu merasa dalam curahan rahmat Allah, pemilik alam semesta raya ini, merasa tenteram dan terlindungi karena didasari oleh kepercayaan bahwa kita bekerja untuk mensejahterakan bumi Allah ini. Bersedia untuk menggunakan seluruh potensi diri secara maksimal, dalam rangka menjalankan tugas sebagai rahmatan lil’alamin.

3.       Arrahmanirrahiim (Maha Pemurah lagi Maha Penyayang)
Untuk meraih suatu kepercayaan harus didasari oleh sikap rahman dan rahim kepada orang lain. Tidak selalu merugikan orang lain dan selalu berusaha membantu dan menolong orang lain. Inilah dasar keberhasilan hubungan antar manusia, yang membawa kepada suatu ketangguhan social.
Kita mesti mecontoh rahman dan rahim-Nya dengan berupaya untuk senantiasa  memberikan kasih saying kepada siapapun, bahkan kepada orang yang kita benci sekalipun. Dengan cara ini, kita akan menjadi orang yang pemaaaf, dermawan, berfikir positif, adil, mampu berempati, dan menempatkan orang lain secara proporsional.

4.       Maaliki yaumiddiin (Yang menguasai di Hari Pembalasan)
Inilah yang hendaknya menjadi visi kita, senantiasa berorientasi pada masa depan, harapan yang jelas, dan memiliki perencanaan untuk setiap langkah yang akan dibuat sehingga kita memiliki suatu kesadaran penuh bahwa cara untuk meraih suatu keberhasilan tidak bisa ditempuh dengan cara-cara yang buruk sehingga menghalalkan segala cara. Mungkin saja kita lepas dari jerat hokum dunia, namun kita tidak mungkin lepas dari jerat hisab di akhirat.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula).” QS. Az Zalzalah 99:7-8
Sehingga kita bisa mulai bertindak atas nama Allah, senantiasa memuji dan mengingat-Nya, berbekal sifat rahman dan rahim dalam mencapai suatu tujuan. Inilah jaminan bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa.

5.       Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin (Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan)
Mari kita introspeksi diri kita, sudahkah kita mengaplikasikan ikrar yang senantiasa kita lafadzkan dalam setiap shalat kita ini? Hanya kepada AAllah SWT kita menyembah dan memohon pertolongan. Sebab kalau Allah berkehendak member anugerah kepada seseorang tidak ada seorangpun yang dapat menggagalkannya, dan bila Allah berkehendak menehan anugerah pada seseorang, tak seorangpun dapat memberikannya.
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS Faathir:2
Dengan ikrar ini kita dituntut untuk memelihara prinsip integritas terhadap Tuhan yang kita sembah Yang Maha Penolong. Berprinsip tunggal hanya kepada Allah Yang Esa, bekerja secara sungguh-sungguh dan selalu bersikap jujur. Memiliki komitmen dan senantiasa konsisten dalam mencapai tujuan, merasa diri selalu dilihat Allah SWT. Sehingga kita akan memiliki standar kerja dan prestasi yang sangat tinggi. Karena Tuhan Yang Maha Tinggi adalah teladan dan prinsip yang kita pegang. Siap menghadapi segala tantangan, siap menghadapi segala kegagalan dan keberhasilan. bermental baja karena memiliki suatu “kemenangan pribadi” yang sangat kuat, dan bersifat mandiri.

6.       Ihdinash shiraathal mustaqiim (Tunjukilah kami jalan yang lurus)
inilah langkah penulisan naskah pikiran ke dalam alam nyata berupa suatu tindakan yang dilandasi pada format hati dan pikiran yang terbentuk dari ayat pertama hingga ayat ke-lima, yaitu bertindak atas nama Allah SWT, senantiasa bersikap rahman dan rahim, memiliki visi, integritas tinggi, dan hanya berpegang kepada Allah SWT. Inilah langkah pelaksanaan secara tota dari suatu visi yang telah dilandasi oleh karakter yang kokoh dan prinsip yang teguh. Di sinilah letak perjuangan yang sesungguhnya.  Langkah Islam yang dipalikasikan secara total.
Inilah orang-orang yang telah dianugerahi nikmat itu : “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” QS An Nisa :69

7.       Shirrathal Ladzina an’amta alaihim, ghairil maghduubi ‘alaihim waladh dhaalliin ((yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat)
Dalam menyempurnakan perjuangan kita, di tengah perjalanan itu teruslah asah hati kita, pikiran dan pelaksanaannya secara terus menerus, sehingga terbentuk tingkatan yang lebih baik dan lebih sempurna. Kita diminta untuk mengevaluasi pikiran, hati, dan pelaksanaan kerja kita agar terus berada pada tangga yang benar. Tanpa kenal putus asa, pada jalan Allah yang sangat luas, hanya untuk mencari ridho Allah SWT.

Ammiiin (kabulkanlah), inilah wujud kerelaan kita (ikhlas) terhadap keputusan Allah SWT. Tetaplah ikhlas untuk menerima segala hasil yang telah dicapai, apapun hasilnya terimalah dengan baik, karena semua dari llah SWT. Apabila belum merasa puas, jangan langsung menyalahkan nasib, baca dan pelajari, pasti ada sesuatu yang masih kurang dan belum dilakukan. Ulangi lagi seperti kita mengulangi bacaan Al Fatihah ini setiap hari. Jadikan setiap ayat sang ibunda Al Quran ini sebagai alat untuk mengevaluasi diri.
Setiap membaca Al Fatihah, pergunakanlah seluruh suara hati kita untuk menyerap sekaligus melatih dan mempertajam kecerdasan emosi dan spiritual kita. Tiap ayat yang dibaca melalui mata hati kita akan menimbulkan suatu pembangungan karakter yang mulia, yang dilandasi prinsip keesaan Allah SWT, serta memunculkan kembali suara-suara hati yang tertutup, sehingga akan memberikan kembali informasi dan bimbingan yang maha penting.



Selasa, 07 Juni 2011

Jalan Menuju Mati


Kita tak lain adalah gugusan waktu, waktu yang telah dihitung dan terbatas, waktu ketika telah berlalu tak dapat diulang kembali, waktu dimana kita diberikan jatah nafas untuk kita hirup. Setiap kali bernafas, ketika itu pula jatah nafas kita berkurang sampai menuju batas akhirnya, sampai ruh meninggalkan jasad, meninggalkan semua yang dicintai tanpa ada harapan untuk kembali lagi.
62. Al Jumu'ah : 8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".


Sekencang apapun berlari, dimanapun bersembunyi, waktu itu akan datang juga. Waktu-waktu terakhir kita, waktu yang tak satupun makhluk dapat mengetahuinya. Waktu dimana kita akan sampai diujung pintu rumah kekal kita nanti. Saat itu tak ada lagi harapan untuk kembali mengulang waktu-waktu yang telah dilalui, sebanyak apapun permohonan yang kita pinta, goresan tinta kehidupan kita telah kering dan akan membawa ke rumah tempat kita tinggal yang abadi.
23. Al Mu’minuun : 99. (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)
Sejenak kita renungkan, sudah berapa lama kita hidup di muka bumi ini? Sudah berapa tahun yang kita lewati, sudah berapa banyak kita menghela nafas dan berapa kali jantung kita berdenyut memompa aliran darah keseluruh tubuh. Apa yang terukir dalam buku kehidupan kita di dunia, itulah mahar yang kita siapkan untuk memperoleh tempat tinggal di kehidupan akhirat kelak. Lalu apa yang telah kita ukir? Ingatlah bahwa waktu kita didunia ini dibatasi, sebagaimana jatah nafas yang kita hirup. Maka sudahkah kita mengisi waktu hidup kita ini dengan amalan-amalan terbaik kita? Atau kita telah lalai dan terbuai dengan kehidupan yang fana ini sehingga lupa akan kehidupan akhirat yang abadi.
Telah banyak perjalanan manusia yang bisa kita petik hikmah dalam kehidupannya. Ketika seorang manusia dengan segala kabajikan dan ketulusan jiwanya meninggal dunia, catatan kehidupannya telah mengukir kenangan dalam setiap hati sehingga namanya menjadi sejarah yang mewangikan jejak perjalanan hidupnya. Seperti seorang wanita yang namanya mengharum saat kepergiannya belum lama ini, jejak-jejak kehidupannya yang berarti bagi banyak orang membuatnya semakin indah untuk menjadi sejarah. Sehingga kepergiannya mengurai banyak air mata dan duka cita bagi masyarakat. Tak hanya kesedihan masyarakat di negara ini namun negara-negara didunia ini pun seolah tersentuh dengan catatan kehidupannya. Dialah seorang wanita, seorang istri, seorang diri yang menjadi mulia dalam batas akhir kehidupannya.
Begitupun sebaliknya, jangan sampai kita menjadi seseorang yang terhina di batas akhir kehidupan kita. Dimana tak ada satupun yang merasakan kehilangan saat kita tiada, karena kita tak sempat mengukir buku kehidupan kita dengan kemuliaan dan ketulusan. Atau bahkan kepergian kita malah menjadi harapan orang lain karena catatan kita penuh dengan keburukan. Naudzubilahimindalik… Maka sahabat, setelah merenungi waktu kita yang semakin menuju batas akhir ini bersujudlah memohon ampunan kepada-Nya, bersegeralah untuk menunaikan tugas-tugas kita yang telah lama kita lalaikan, bersegeralah menebar kebajikan untuk menjadi bekal kita pulang nanti.
Hidup ini adalah perjalanan menuju mati, kapan, dimana, dan bagaimana kita menemuinya tak ada yang mengetahuinya kecuali Sang Pemilik Waktu. Pernahkah kita renungkan, apa yang sedang dilakukan saat berada di batas akhir waktu kita? Adakah keinginan untuk menemui penghujung hidup dalam ketaatan dan kemuliaan, atau sebaliknya berakhir dalam kesesatan dan kehinaan? Akhir kisah orang-orang disekitar kita cukup menjadi hikmah bagaimana kematian bisa datang kapanpun dan dimanapun, jangan sampai ketika penghujung hidup itu tiba kita sedang terbuai dalam kesesatan, lalai, dan ingkar. Jadikanlah pelajaran ketika kita saksikan hidup orang-orang yang berakhir dalam keburukan tersebut, ketika menegak barang-barang haram, ketika berzina, ketika merampok, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya. Semoga kita terhindar dari su’ul khatimah. Berdoalah agar kita bisa mengikuti hamba-hamba yang mengakhiri kehidupannya dalam ketaatan dan kemuliaan, dalam shalat, dalam sujud, dalam perjalanan mencari ilmu, dalam perjalanan mencari nafkah, dalam peperangan melawan kebiadaban, dalam perjalanan ibadah kita.
Ya Allah, jadikan umur terbaik hamba dipnghujungnya, jadikan amal terbaik hamba di penutupnya, jadikan hari-hari terbaik hamba saat bertemu dengan-Mu, ammin.
Hidup ini adalah perjalanan menuju mati, karena setiap yang hidup (bernyawa) akan menemuinya. Waktu kita tak lagi panjang, maka bersegeralah…

QS. Al Ankabuut 57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
4. An Nissa : 78. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan  sedikitpun?

Sabtu, 07 Mei 2011

Tuhan memang Satu

Tuhan  memang Satu..
Kita yang tak sama...
Suatu hari salah satu kerabat berkunjung ke rumah untuk menjenguk putra pertamaku. Beliau adalah kakak nenek yang berarti nenekku juga, walaupun kami tidak dekat tapi aku mengenalnya sejak kecil. Sambil menggendong putraku, beliau berdoa
 sesuai dengan keyakinannya dengan bahasa dan redaksinya sendiri. Sambil menikmati roti kami pun berbincang-bincang.
“Nenek harap perbedaan agama tidak memutuskan silaturahmi bahkan kekeluargaan kita,” ucap nenek yang selalu berbicara tanpa basa-basi. Aku pun tersenyum sambil menganggukkan kepala, aku tak bisa banyak berkata karena pendengaran nenek sudah tidak tajam lagi, sehingga jika berbicara harus bersuara lebih keras. Menurutku lebih baik menggunakan bahasa tubuh agar lebih santun dan mudah dimengerti.
“Pada dasarnya setiap agama mengajarkan kebaikan pada umatnya, menyuruh untuk menyembah hanya kepada satu Tuhan, menyeru manusia untuk saling mengasihi, saling menolong, dan melarang berbuat tidak baik, mengambil hak oramg lain, memfitnah, mebunuh...” lanjutnya sambil mengutarakan isi ayat yang terdapat dalam kitabnya. Kembali aku hanya tersenyum sambil mendengarkan kisahnya,
“...walaupun berbeda agama, nenek harap tidak menghalangi kamu untuk berbuat baik kepada nenek seperti halnya kepada orang lain yang agamanya sama. Jangan sampai seperti anak nenek yang tidak mau mengakui nenek sebagai orang tua dan memutuskan hubungan keluarga karena berbeda agama. Beberapa tetanggapun seolah tidak menyukai nenek karena berbeda agama bahkan salah satunya mengatakan ‘haram’ melewati rumah nenek..” kisahnya, aku hanya terdiam  berfikir betapa kasihan nenek dan betapa kejamnya dunia. Begitu teganya seorang anak mencampakan ibunya karena berbeda agama, begitu teganya seseorang mengabaikan perasaan orang lain, begitu teganya seseorang mengambil hak orang lain dan membenarkan perbuatan buruknya terhadap orang lain karena perbedaan agama. Bukankah sebagai seorang muslim seharusnya lebih memahami bagaimana berhubungan dengan sesama manusia, pentingnya menjaga silaturahmi, menghormati dan menjaga hak orang lain sekalipun berbeda keyakinan.
Sang suri teladan Rasulullah Saw telah memberikan contoh bagaimana bersikap terhadap kaum yang belum menganut ajaran Islam, beliau menganjurkan seorang anak untuk tetap berbuat baik kepada orang tuanya sekalipun berbeda keyakinan. Rasulullah Saw menjamin keamanan orang-orang kafir yang tidak mengganggu Islam dan menghormati hak miliknya, bahkan dalam peperangan sekalipun beliau menghormati kesempatan orang-orang kafir untuk bisa meyakini ajaran Islam.
Qs.Al Ankabut  29: 8. Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
Qs. Al Mumtahanah 60: 8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
Qs.Al Kafirun 109: 6. “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku."
Islam adalah agama yang paling sempurna, ajaran yang mengajak kepada keselamatan dunia dan akhirat. Bukan hanya menjadi penunjuk jalan selamat bagi pemeluknya tapi juga mengajarkan setiap muslim untukmenjadi penunjuk jalan keselamatan untuk orang lain. Betapa indahnya Islam, penuh dengan kasih sayang dalam menjunjung nilai-nilai kebenaran.
Dari perbincangan dengan nenek, banyak hal yang sering menjadi fokus pemikiran beberapa orang untuk berusaha mempersatukan keyakinan. Aku teringat perkataan salah satu kawan yang berbeda agama “....sebenarnya Tuhan kita itu sama, karena Tuhan itu Satu...”, secara harfiah hal itu memang benar karena yang telah menciptakan seluruh alam semesta beserta segala isinya adalah Tuhan Yang Maha Esa, namun pada dasarnya berbedanya aqidah setiap individu menyebabkan perbedaan prinsip dan hukum-hukum yang mengatur setiap aspek kehidupan individu tersebut. Tidak mungkin Tuhan yang sama memberikan aturan yang berbeda kepada umatnya, tidak pula suatu kaum mengikuti suatu ajaran sementara tidak mengakui penyebar risalah yang menjadi utusan-Nya. Walaupun ada kesamaan pada setiap agama untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan, namun ada aturan dan unsur ketauhidan yang berbeda. Inilah dasar aqidah yang menjadi keyakinan dan prinsip hidup seseorang.
Qs.Al Baqarah 2: 21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,
Qs.Al baqarah 2: 139. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,
Qs.AlBaqarah 2: 208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu
Memang Islam mengajarkan pemeluknya untuk berbuat baik terhadap sesama, termasuk yang berbeda keyakinan. Saling menghormati, menghargai, dan menjaga hak milik orang lain, tolong menolong dalam kebaikan. Namun tidak dalam aqidah, setiap muslim wajib menjaga dan mempertahankan kemurnian aqidahnya agar berada dalam keridhoan-Nya. Jadi... Tuhan memang satu, tapi kita yang tak sama... tergantung bagaimana kita bisa membuka hati kita agar cahaya kebenaran bisa masuk dan menerangi jalan hidup kita. Yakinlah Islam akan membawa kita kepada keselamatan dunia akhirat...
Qs.An Nur 24: 35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya)[1040], yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Islam itu indah...

Cuci Otak??

dibuat
Lagi, berita orang hilang ramai tersebar hari ini. Kabarnya ada penculikan yang bisa bikin para korbannya gak sadar dan berubah karena sudah di cuci otaknya. Cuci otak? Bukan berarti otaknya dikeluarin terus di bilas bersih pake detergen, tapi istilah cuci otakini berarti sang pemilik otak sudah di doktrin dan diberikan masukan sehingga ia memiliki pemikiran yang sama seperti yang diinginkan si pemberi doktrin. Berawal dari seorang pegawai dinas perhubungan yang ditemukan tak sadarkan diri di salah satu masjid di puncak,tak lama kemudian sembilan mahasiswa Universitas Muhamadiyah Malang dilaporkan hilang, disusul laporan-laporan orang hilang lainnya yang ramai diberitakan media elektronik. Diduga kasus-kasus orang hilang tersebut berhubungan dengan suatu kelompok yang menunggangi Islam dalam gerakannya, istilah ajaran atau agama sempalan sering disematkan pada gerakan ini karena ada beberapa pemahaman dan aktifitas yang menyimpang dari ajaran Islam sesungguhnya. Dugaan ini diperkuat oleh kesaksian tujuh mahasiswa yang lolos dari penculikan, juga beberapa mantan anggotanya yang memberikan kesaksian di media.
Lagi-lagi hal ini membuat cemas masyarakat terutama para orang tua karena sebagian besar sasarannya adalah pelajar atau mahasiswa. Aduuuh.. kayaknya negeri ini sulit untuk tenteram, masalah bom-boman belum selesai ditambah lagi masalah cuci-cucian yang bikin was-was. Sebenarnya tidak perlu ada kekhawatiran bila dasar-dasar agama telah ditanamkan sedini mungkin, sehingga generasi kita akan kuat menghadapi berbagai tantangan di depan. Masalahnya.. gak banyak keluarga yang menjadikan pendidikan agama sebagai prioritas utama, jadi  ajaran-ajaran sempalan seperti ini cukup  membuat gelisah masyarakat. Yang membuatku prihatin gerakan ini mengatasnamakan Islam dalam aktifitasnya, sehingga  beritaini pun mendistorsi Islam dan ajaran-ajarannya.
Gerakan yang disebut Negara Islam Indonesia (NII) ini memang telah mendistorsi agama Islam, karena banyak ajaran dan aktifitasnya yang tidak sesuai dengan ajaran Islam sesungguhnya. Penyimpangan yang terjadi mulai dari perekrutan dimana setiap anggota harus memberikan setoran sehingga banyak diantaranya menghalalkan segala cara demi memenuhi setorannya. Berbagai tindakan kriminalpun bisa dilakukan, mencuri, merampok, bahkan menipu teman dan kerabatpun tak  sungkan lagi dilakukan. Naudzubilah..padahal Islam sangat menganjurkan untuk menghormati dan menjaga hak milik orang lain, bukan malah merusak atau mencurinya. Tidak hanya itu menurut mantan anggotanya faham NII mengajarkan bahwa orang lain diluar NII adalah kafir sekalipun seorang muslim atau bahkan orangtua kandungnya. Astagfirullah, betapa mudahnya mengkafirkan orang lain padahal Rasulullah SAW pun tak pernah berlaku tidak hormat kepada pamannya Abu Tholib yang sampai akhir hidupnya belum sempat bersyahadat. Sebagai sang suri tauladan umat manusia, Rasulullah SAW selalu santun dan lembut kepada siapapun. Beliau bahkan menyuapi seorang Yahudi yang buta, padahal ia selalu mencaci maki Rasulullah SAW, setelah Rasulullah SAW wafat Umar Bin Khatab menggantikan kebiasaan Rasulullah SAW untuk menyuapi orang tersebut. Hingga akhirnya ia tahu bahwa selama ini yang menyuapinya adalah Rasulullah SAW yang selalu ia caci maki, orang Yahudi itu pun akhirnya masuk Islam. Betapa lembut Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah ini, berbeda dengan ajaran sempalan yang dilakukan NII.
Qs. An Nahl 16: 125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Satu lagi yang nyeleneh, menurut mantan anggota NII yang diwawancarai di salah satu stasiun televisi swasta bahwa shalat lima waktu pun belum wajib dilaksanakan sebelum NII berdiri. Bagaimana mau menegakan negara Islam kalau salah satu rukunnya saja gak ditegakkan. Benar-benar aneh...  Yang gak kalah aneh tapi nyata,ada saja orang yang menjadi korban gerakan ini. Inilah yang mesti diantisipasi oleh kita.
Berita terbaru dari salah satu mantan menteri di NII adalah adanya aliran dana yang terkumpul lewat jaringan ini berada di rekening salah satu Bank yang masalahnya belum tuntas hingga sekarang. Menurutnya pemimpin jaringan NII ini dekat dengan pemilik bank tersebut yakni ‘Robert Tantular’ sehingga dana yang terkumpul dari jaringan ini disimpan di rekening bank tersebut. Mungkin itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa skandal bank Century belum juga selesai, wallahualam.
Sebenarnya kasus jaringan NII ini sudah berlangsung lama, sejak bertahun-tahun yang lalu. Berawal dari pemberontakan Kartosuwiryo, gerakan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII), hingga sekarang. Menurut para pengamat kasus NII yang saat ini ramai di masyarakat berbeda dengan pergerakan NII yang pernah dicetuskan Kartosuwiyo, jaringan NII yang menyimpang ini adalah NII tandingan yang dibuat intelejen. Wah, kalau begitu sudah terjadi politisasi dong!? Percaya gak percaya sih, tapi kalau sampai sekarang kasus aliran sempalan ini gak pernah beres..gimana mau percaya bahwa pemerintah dan aparat sudah serius menanganinya? Jadi politisasi juga?? Wallahualam bisawab...
Memang politik kadang-kadang sering menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, tapi jangan sampai masyarakat yang jadi korbannya. Kan kasihan banyak orang yang linglung bahkan jadi depresi jadi korban cuci otak, belum lagi orang tua dan keluarga yang bersedih karena kehilangan anaknya, juga gak sedikit harta dan hak milik yang terampas akibat ulah jaringan ini. Lalu siapa yang menikmati hasil setoran jaringan ini? Kalau memang benar ada unsur politiknya, berarti... gak tahu lah, Allah Maha Tahu dan Maha Adil, semua pasti akan dapat balasan yang setimpal.

Artis you Tube VS Bom


“Chaiya chaiya chaiya chaiya..chaiya chaiya chaiya..” kayaknya lirik lagu India ini lagi ngehits, pasca video lipsing seorang anggota Brimob yang niruin gaya Shahruk Khan beredar di situs You Tube. Gak sedikit yang jadi populer berkat salah satu situs internet ini, bahkan artis fenomenal sekelas Justin Beiber pun awalnya lahir dari situs ini. Namun banyak pula yang kepopulerannya hanya sekejap bahkan harus gigit jari karena jadi populer cuma jadi mimpi belaka. Briptu Norman Chamaru yang terkenal lewat video lipsingnya ini emang lagi naik daun, pasca gayanya di unggah ke You Tube Briptu Norman dapet durian runtuh. Gak tanggung-tanggung selama lebih dari sepekan wajahnya tampil di segala macam media, mulai media cetak hingga media elektronik. Yang paling lucu kali ini malah atasannya menjadi pengawal di setiap kegiatan...sungguh ironis,he..he. Awalnya ada kekhawatiran jangan-jangan perbuatannya joged-joged ala india itu bakal dikenai sanksi dari institusinya, namun siapa sangka seorang anggota Brimob biasa kini banyak dielu-elukan masyarakat juga dari institusinya, ibarat seorang raja kehadirannya disambut dengan gegap gempita. Katanya sih dengan fenomena Briptu Norman ini dapat merubah citra kepolisian yang dulunya tampak arogan menjadi lebih bermasyarakat dan humanis.
Ketika Briptu Norman bersinar di atas panggung, berita yang gak kalah penting datang dari Tanggerang dimana ditemukan tiga paket bom yang diduga bakal diledakan menjelang peringatan hari Paskah 22 April 2011. Letak paket yang strategis yakni dekat saluran PGN (Perusahaan Gas Negara), gereja Christ Chatedral, dan perumahan penduduk ini sempat bikin panik kepolisian juga masyarakat. Alhamdulillah berkat ridho Allah dan kesigapan Tim Gegana dari kepolisian  Republik Indonesia akhirnya ketiga paket bom dapat dijinakkan, salut deh buat pak polisi ^-^..  Sayangnya penghargaan yang didapet para pahlawan ini gak seperti penghargaan yang diperoleh sang diva kepolisian, padahal mereka udah menyelamatkan banyak orang dengan mengorbankan diri sendiri. Walaupun itu semua sudah menjadi tanggung jawab dan pekerjaannya, bukankah lebih baik kita juga mengapresiasi perjuangannya? Jangan sampai terjadi kecemburuan sosial...he..he. Seorang Briptu Norman bisa mendadak kaya dan terkenal karena bisa menghibur orang, lalu bagaimana para polisi yang berhasil menyelamatkan banyak orang dari ancaman bom? Semoga mereka mendapat penghargaan yang layak juga, jangan sampai terjadi kesenjangan sosial karena akar munculnya ancaman bom dan terorisme adalah kesenjangan sosial yang telah lama terjadi membentuk gunung es.
Semoga saja segala bentuk tindakan terorisme tidak lagi terjadi di tanah air ini, dan apa yang telah terjadi harus menjadi pelajaran bagi kita semua terutama aparat penegak hukum dan pemerintahan  agar sungguh-sungguh dalam bekerja, jujur, dan adil. Sehingga rakyat benar-benar sejahtera dan aman hidup di negeri ini.
Qs.Al Maidah 5: 8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Qs. AnNisa 4: 58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Pada akhirnya pemerintah dan yang berwenanglah yang memiliki tanggungjawab dan peran besar untuk menghapus  terorisme, yakni dengan menegakkan kebenaran dn keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga tak ada lagi kesenjangan yang memicu lahirnya pemberontakan. Karena pemerintah yang adil akan melahirkan kecintaan dan kebanggaan bagi bangsa ini.