Rumah Sehat Al-Fatih

Tampilkan postingan dengan label catatan anak islam waspada surga nasehat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan anak islam waspada surga nasehat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2011

Keadaan Terbaik

Keadaan Terbaik
Hari itu umi dan abi bermaksud mengunjungi nenek dan kakek di Ciparay, karena pekerjaan saat ini kami baru bisa mengunjungi mereka sebulan sekali. Sepanjang perjalanan kami berdiskusi tentang berbagai hal yang bisa kami ambil hikmahnya. Tentang kejadian-kejadian yang kami alami, hal-hal yang kami lihat sepanjang perjalanan, juga mimpi dan harapan. Kemudian abi menceritakan sebuah kisah ,
 “Ada seorang anak kecil di atas sebuah kapal,ia terus menerus menangis. Berkali-kali orang-orang di kapal tersebut berusaha membujuknya agar berhenti menangis. Namun semua upaya mereka tidak berhasil membuat anak tersebut berhenti menangis. Lalu seorang kakek yang sudah lama duduk di salah satu sudut kapal menghampiri anak kecil tersebut kemudian mengangkat tubuh sang anak dan melemparnya ke lautan. Orang-orang di dalam kapal itupun tersentak dan panik melihat anak kecil tersebut hampir tenggelam, merekapun segera menolong dan menaikannya kembali keatas kapal. Setelah kembali berada diatas kapal, sang anakpun tak lagi menangis.”
“Apa hikmah dari kisah tersebut?” abi melanjutkan.
 “Ternyata banyak orang seperti anak tersebut, ia tidak tahu bahwa keadaan yang terbaiknya adalah saat ia berada di atas kapal. Dan ia baru sadar setelah ia hampir tenggelam di lautan. Begitupun dengan kita, kita sering mengeluh dengan keadaan yang kita alami saat ini, kita sering lupa untuk mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, kita lebih fokus kepada hal-hal yang belum kita miliki. Dan kita baru sadar bahwa itulah saat yang terbaik setelah kita kehilangan waktu dan hal-hal yang kita miliki. Kita sering sok tahu dengan berfikir bahwa kita pasti akan bahagia dengan begini atau begitu, bahagia dengan memiliki ini atau itu. Padahal kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, bahkan satu detik yang akan datang. Tapi kita tetap sombong dan memaksakan keinginan kita. Sehingga apa yang kita rasakan jauh dari rasa bahagia, malah seringkali penyesalan dan kekecewaan yang akhirnya kita peroleh. Allah lah Yang Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Pengasih dan Penyayang. Allah Yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-hambanya. Jika kita sungguh-sungguh yakin , menyandarkan segala sesuatu kepada-Nya, sabar, dan ikhlas dalam berusaha maka kita akan mampu melihat sesuatu dengan jernih. Sehingga kita akan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena apa yang penting itu bukanlah apa yang kita peroleh, tapi bagaimana prosesnya, sikap, dan segala ikhtiar yang telah kita lakukan. Tidak ada usaha yang sia-sia disisi Allah, Allah Swt akan menilai dan memberikan ganjaran atas apa yang kita lakukan.”
Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjalan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” QS.Az  Zalzalah : 7-8.
Umi jadi malu, umi masih banyak mengeluh, umi masih sering lupa bersyukur. Padahal banyak sekali nikmat yang Allah Swt  limpahkan buat umi. Umi masih sangat sombong dengan memaksakan segala keinginan dan apa yang ingin umi miliki. Padahal itu semua tidak menjamin timbulnya kebahagiaan, walaupun bahagia tapi tidak berlangsung lama, itulah nafsu. Bila nafsu berkuasa maka ia akan menggiring kita pada kebahagiaan yang semu, menggiring kita pada penyesalan yang nyata, dan penderitaan yang abadi. Oleh karena itu kita harus bisa mengendalikan nafsu kita sehingga membawa kita kepada kebaikan, membawa kita kepada kebahagiaan yang sejati dan keridhoan-Nya.
Kunci dari semua itu adalah sabar dan syukur. Bersabar dan ikhlas dalam menjalani kesulitan yang dihadapi akan melahirkan kekuatan yang luar biasa. Karena dengan kesabaran dan keikhlasan tersebut kita menyandarkan segalanya  kepada Yang Maha Berkehendak, Maha Kuat, Maha Kuasa, Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Sehingga jiwa kita lebih tenang dan mampu menyikapi permasalahan tersebut dengan bijaksana.
Betapa menakjubkan akhlak seorang muslim, ketika ditimpa musibah ia bersabar, ketika diberikan nikmat ia bersyukur.”
Bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada kita akan melapangkan hati kita, menjauhkan kita dari rasa sulit yang menghimpit, menghilangkan sikap dengki dan iri terhadap makhluk. Karena rasa syukur akan menambah kedekatan kita dengan Sang Maha Pemberi, Maha Pengasih dan Penyayang, serta meluaskan rizki dan menambah nikmat-Nya.
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah  nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pastiAzab-Ku sangat berat.” Qs.Ibrahim :7
Annakku, keadaan terbaik kita adalah saat ini (dalam iman dan ketaqwaan kepada Allah Swt). Karena apa yang terbaik menurut kita belum tentu menurut Allah Swt, begitupun sebaliknya. Apa yang menurut kita buruk bisa jadi akan memberikan kebaikan kepada kita pada masa yang akan datang. Karena hanya Allah lah Yang Maha Mengetahui dan Maha kuasa terhadap makhluk-makhluk-Nya. Maka tetaplah dalam keimanan, berpegang hanya kepada-Nya dengan hanya mengharap keridhoann-Nya. Jalani kehidupan ini dengan sabar, ikhlas, dan rasa syukur. Semoga Allah Swt senantiasa memberkahi hidup kita, ammin.

Catatan Untuk Anakku


Anakku, ada kekhawatiran yang hinggap di hati ini. Umi bukan manusia yang sempurna, umi pun masih belajar menjadi manusia yang baik dan bijaksana. Namun umi ingin engkau kelak bisa menjadi manusia yang baik, hamba Allah yang beriman dan taqwa. Cukup Allah tujuan kita, cukup hanya keridhoan-Nya. Seperti nasehat Abi, “Apapun pandangan manusia yang penting Allah ridho”. Betul sayang! Apapun yang kita lakukan niatkanlah dalam hatimu hanya untuk meraih ridho-Nya, karena sebesar apapun, sebanyak apapun, sekuasa apapun dirimu bila Allah tidak ridho maka apa yang kamu miliki itu tidaklah akan berguna. Tapi bila Allah ridho, walaupun kecil atau sedikit maka akan membawa banyak manfaat dan berkah bagi kita. Kekhawatiran umi bukanlah karena takut kehilangan dunia ini. Umi khawatir tak sempat mengenalkan atau mengajarkanmu agama yang sempurna ini. Umi tidak tahu apa yang akan terjadi kelak, berapa lagi jatah usia umi, berapa banyak nafas lagi yang berhembus dari dada ini.
                   Ingatlah sayang, bahwa kehidupan sebenarnya bukanlah didunia ini tapi akhirat nanti lah kehidupan yang abadi. Dunia ini adalah ladang kita untuk memperoleh tempat yang terbaik yang kita harapkan di akhirat nanti, maka janganlah tergoda dengan kesenangan sesaat, jangan sampai terjebak dalam dosa yang tampak indah dimata, jangan sampai terbuai dalam kemaksiatan yang tampak sepele. Waspadalah!! Karena satu kemaksiatan akan menarik kita kepada kemaksiatan-kemaksiatan yang lain sehingga akan semakin menambah lumbung dosa kita. Naudzubillah... Namun bila langkahmu tersandung dalam perbuatan salah segeralah berpegang kepada-Nya, segeralah beristigfar, segeralah bertobat dan bangkitlah untuk menghisab diri, bermuhasabah dan memperbaiki langkah-langkahmu agar tak terjatuh. Waspadalah! Karena di hari nanti kita akan mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita sendiri, begitupun umi dengan segala tanggungjawab termasuk amanah sebagai seorang ibu.

QS.Lukman 31: 33. Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah 

                   Anakku, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang sering berkeluh kesah, kikir, bahkan sering berputus asa kalau sedang diuji dengan kesedihan, kepahitan, dan kesulitan. Namun suka sombong kalau diuji dengan kebahagiaan. Maka waspadalah dengan sikapmu dalam menghadapi kehidupan ini.
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berputus asa dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” QS.Al Maarij :19-22
Rumus untuk mengobati sifat buruk ini adalah dengan mendekatkan diri kepada  Allah Swt agar kita disa bersyukur dan bersabar.  Seperti yang tersirat dalam firman Allah Swt:
“Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya.” Qs.Al Maarij :22-23
Nabi Saw Bersabda, “Sungguh menakjubkan perilaku orang yang beriman, apapun yang menimpanya akan menjadi kebaikan. Kalau ditimpa kesusahan ia bersabar, dan kalau ditimpa kebahagiaan ia bersyukur.”
                   Anakku, jalan kehidupan ini memang tidak selalu mulus. Ada lembah, bukit-bukit terjal, lautan luas, dan jalanan yang berliku yang harus siap kita hadapi. Namun jangan pernah takut ataupun gentar dengan tantangan dunia ini, selama kau masih memiliki iman dan taqwa serta selalu berpegang kepada tali Allah Swt, yakinlah “Innallaha ma ana”. Allah selalu bersama kita, Allah akan senantiasa menolong hamba-hambaNya. Apapun cara dan bentuknya, pertolongan Allah itu nyata, walaupun sering tidak kita sadari. Maka jadikanlah hidupmu semata-mata hanya untuk mendapatkan cinta-Nya.
“Bila Allah telah mencintai seorang hamba, maka matanya adalah pandangan-Nya, kakinya adalah langkah-Nya, mulutnya adalah lisan-Nya...”
                   Harapkanlah selalu cinta-Nya karena dengan mencintai-Nya takan sia-sia. Hanya cinta-Nya yang tak pernah habis, mencintai-Nya tak akan kecewa karena tak pernah bertepuk sebelah tangan. Cintailah dengan ketaatan yang sempurna ...
                   Anakku, Umi ingin engkau kelak menjadi  manusia yang baik, hamba Allah yang beriman dan taqwa seperti yang umi harap sebelum kelahiranmu. Jadilah penerang, penyejuk mata dan hati orang-orang disekitarmu, beramar ma’ruf nahi munkar. Waspadalah terhadap dunia dan perhiasannya, jangan sampai terbuai dan terjerat dalam perangkapnya. Berpegang hanya kepada-Nya, cukup hanya Allah tujuan kita. Semoga engkau menjadi anak yang sholeh, dan kita berkumpul dalam surga-Nya nanti, Ammin.